
Sejarawan Universitas Indonesia (UI ), Muhammad Wasith Albar menilai seniman, desainer, ataupun sineas film seringkali bertabrakan dengan isu agama. Sehingga tak jarang karyanya menjadi kontroversi di masyarakat.
"Seniman, desainer, arsitek atau film itu kalau dinilai tolak ukurnya antara estetika dengan agama banyak yang tabrakan. Alat ukurnya bukan budaya lokal. Di manapun di nusantara, apalagi di Padang itu kan adat bersanding dengan agama, atau sebaliknya," kata Wasith kepada JawaPos.com, Selasa (10/3).
Wasith menilai orang Minang dikenal sebagai sosok yang religius, jika dikaitkan dari sisi karakter etnis. Sehingga, wajar kalau tersinggung dengan penggunaan suntiang yang dipadukan kebaya modern berpotongan dada rendah.
"Ujung-ujungnya orang Minang marah hingga Anne Avantie minta maaf. Itu karena sesungguhnya orang Minang religius. Tidak pada tempatnya kebaya tersebut dipadukan dengan suntiang, kebaya modern berleher rendah dengan dada transparan hanya ditutupi bordir," tegas Wasith.
Tapi, jika berbicara fashion pada umumnya, sah-sah saja berbagai kebaya saat ini dimodifikasi menjadi modern dengan kain tile yang transparan. Sebab, sebuah karya tak ada batasnya jika dilihat dari segi kreativitas.
"Bahkan ada beberapa patung di sejumlah daerah yang dibongkar karena melanggar agama. Semakin chaos liar seniman justru akan ciptakan kreativitas namun akan terjadi dialog seperti ini akibat kreativitas tersebut. Maka jika kebaya ditanya batasannya saya akan jawab yang sesuai dengan norma-norma masyarakat," tutup Wasith.
(ika/JPC)
0 Response to "Seniman dan Desainer Sering Tabrakan Saat Dihadapkan dengan Agama"
Posting Komentar