
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan saat ini tren orang mengunjungi mal sudah bergeser. Mal tak lagi dipandang sebagai tempat bagi orang kaya menghabiskan uang. Citra itu kini sudah mulai berubah karena pertumbuhan ekonomi kelas menengah yang lebih subur.
"Sekarang mal makin berkembang di daerah sebagai pengembangan dan pemasaran. Tahun 90an mal itu untuk masyarakat kelas atas. Kini sudah berubah, 95 persen masyarakat kelas bawah atau menengah pun sudah bisa dan tak segan pergi ke mal," Ketua Umum DPP APPBI Stefanus Ridwan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Gandaria City, Jakarta, Kamis (12/4).
Ridwan mencontohkan dulu mal seperti Plaza Indonesia, Blok M, Ratu Plaza, terkesan mewah bagi orang kaya saja. Kini semua mal sudah bisa dijangkau untuk kelas menengah bahkan menengah bawah.
"Sekarang pandangan itu sudah berubah, 95 persen itu sebenarnya memandang mal sudah untuk kelas menengah dan menengah ke bawah. Blok M Plaza itu kan menengah ke bawah. Beberapa tempat juga menengah banget ya," paparnya.
Perubahan mindset tersebut, kata Ridwan, disebabkan kelas menengah yang terus tumbuh dan paling dominan. Hanya 7 persen orang yang masih menganggap mal tempat mewah.
"Ekonomi tingkat menengah itulah yang paling banyak ke mal. Misalnya keluarga muda, belanja, makan, dan nonton," tegas Ridwan
APPBI juga mendorong semua mal untuk memberikan slot bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Tentu bisa dengan bersinergi bersama Pemerintah Daerah setempat agar memberikan kesempatan kepada masyarakat berbelanja dengan harga yang terjangkau.
(ika/JPC)
0 Response to "Tak Lagi Mewah, Tren Mal di Jakarta Mulai berubah"
Posting Komentar