
Salah satu daerah penghasil tenun terbaik di Indonesia ada di Lombok Timur. Desa Pringgasela merupakan sentra penghasil tenun di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Tenun Pringgasela memilki motif sundawa yang diproduksi menggunakan alat tradisional gedogan dengan pewarnaan alami dari tumbuhan seperti akar, batang kayu dan daun.
Namun sayangnya tenun Pringgasela belum dikenal luas sebagai industri tenun lokal. Melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia provinsi NTB bekerjasama dengan Pemerintah daerah menunjuk perancang mode senior, Wignyo Rahadi, untuk melakukan pendampingan kepada pengrajin tenun Pringgasela. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tenun serta mendorong pemasaran ke tingkat nasional bahkan global.
"Pengembangan tenun Pringgasela ditujukan untuk melestarikan kearifan lokal dengan mengikuti dinamika masyarakat modern. Apalagi motif sundawa sangat mendukung untuk diaplikasikan dalam desain busana modern, seperti pakaian casual ready to wear," ujar Wignyo saat ditemui usai acara fashion show di Kementrian Perindustrian RI, Jakarta Rabu (14/3).
Program pembinaan akan dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kreativitas dan kompetensi penenun di desa Pringgasela, berupa pendampingan dan bantuan dana operasional. Diharapkan tenun hasil pengembangan memiliki daya pakai dan daya jual lebih tinggi serta mendorong peluang ekonomi bagi para pengrajin.
Sebagai langkah awal sebelum melakukan pembinaan, Wignyo membuat koleksi khusus ready to wear dengan menggunakan tenun Pringgasela bertema 'Selaras Garis' pada ajang Indonesia Creative Week, November 2017.
"Tenun hasil pengembangan diupayakan agar lebih nyaman dipakai dan diolah menjadi ragam produk fashion sehingga tidak hanya dipasarkan dalam bentuk kain sarung seperti yang telah dilakukan selama ini," tandasnya.
(fid/JPC)
0 Response to "Tingkatkan Kualitas Tenun, Wignyo Terlibat Pembinaan Penenun di NTT"
Posting Komentar